Kamis, 06 Agustus 2015

First Impression

“Sen..”
“APA?!”
“Gak jadi, lanjutin aja, deh.”

Dalam post kali ini, gue mau bercerita tentang first impression gue sama temen-temen baru gue di SMA.
 Oke langsung aja. Pertama kali gue mau mbicarain tentang seseorang yang namanya gue samarin jadi Yani. Yani ini adalah temen sebangku gue pertama kali waktu pra-MOS, dia orang yang ramah, murah senyum, dan menurut banyak orang dia ca’em. Karena gue lulusan SMP swasta, gue jadi semacam kena paranoid gitu :v nganggep semua orang yang gak berkerudung itu non-Islam termasuk si Yani itu. Berhubung pra-MOS diselenggarain waktu puasa dan bertepatan dengan akhir puasa, kakak fasilitator membagikan surat edaran tentang zakat fitrah. Tak lupa, kakak fasilitator mengabsen siapa saja yang muslim. Gue curiga sama si Yani, kenapa dia angkat tangan waktu di absen. Dari muka-mukanya dia keliatan kayak orang cina eh.. tionghoa. Gue tetep gak percaya kalo temen sebangku gue ini ternyata saudara gue (saudara seiman maksudnya) sampai kakak fasilitator bener-bener melayangkan surat edaran itu ke atas mejanya. Well, dugaan gue salah dan gak semua muslimah bisa mendapat hidayah berhijab itu.

Yang kedua adalah temen sebangku gue yang lain. Temen sebangku gue waktu MOS. Temen sebangku gue yang longlast sampe sekarang :v. Namanya gue samarin jadi Viani. Entah kenapa tiba-tiba gue duduk di samping Viani ini. Seorang anak rantau dari tempat tandus bernama hutan gunung tepatnya kecamatan retnorock alias Baturetno :v . Gue punya beberapa cerita konyol yang terjadi antara kita. Jadi, ceritanya, si Viani ini tanya-tanya tentang boyband korea,Shinee, dan gue tau kalo dia suka sama korea-korea gitu daripada jejepangan. Gue juga balik tanya ke dia “Eh, namamu tadi siapa?” gue bingung gara-gara dikelas itu ada nama yang hampir mirip-mirp gimana gitu, ya nama dia itu salah satunya. Dan gue bertanya pertanyaan yang sama berulang kali dalam frekuensi yang bisa membuat orang jengkel, tapi dia enggak :3 mungkin dalam hati :v . Si Viani ini ternyata anak kos. Kos yang pertama sih menurut gue gak enak. Udah rasanya lumayan jauh, ada anjingnya lagi, kan gak enak gimana gitu rasanya. Akhirnya dia pindah waktu petengahan kelas X. Oh, iya, dia juga paling takut sama cerita horor, apalagi waktu Pradana XXIX di Sekipan, Tawangmangu. Ketika mentari sudah menghilang di ufuk barat, keahlian gue mulai terkumpul dan siap untuk dimuntahkan, yaitu suka bercerita sesuatu yang horor. Padahal tempatnya sendiri udah horor. Sasaran muntahan gue yang pertama kali mestilah si Viani, dia udah nolak beberapa kali, tapi gue gak pantang menyerah. Apalagi waktu acara pensi yang diadain malem-malem dengan suasana gelap, dingin, mencekam, gue masih berusaha nawarin dia cerita yang gue punya, “Eh, aku punya cerita horor” “Gak mau zul” okay, itu jawabannya.

Yang ketiga, si ketua kelas alias namanya gue samarin jadi Ardy. First impression tentunya dia adalah anak genter, orang yang tinggi. Baru kali itu gue liat ada anak umur 15 tahun setinggi dia, ya mungkin sekitar 1,78 m lah tingginya. Impression yang lain itu dia ternyata pernah mau masuk pondok, udah daftar malah, dan dia jadi satu-satunya anak SMP Negeri yang daftar pondok itu. Tapi karena ditolak dia akhirnya masuk smansa. Dan tau sendirilah kalo awalnya mau masuk pondok terus malah masuk sekolah negeri. Dia terlihat seperti seseorang yang agamis. Later I found out that … dia seorang yang suka jejepangan, punya beberapa anime, tau beberapa kosakata jepang (contohnya hentai, ecchi, kimochi, yamete, ikkeh-ikkeh mungkin juga dia tau :v), dan hal-hal yang berbau jepang lainnya. Selain itu ternyata dia juga punya keahlian di bidang kepramukaan, apalagi keahlian dia semakin terlihat waktu mau Pradana. Dia menunjukkan kami, peserta lomba pionering dari Cyclone (yang dulu MIAJI), bagaimana cara tali-temali yang kuat itu dan … ya dia bisa tali temali, apalagi di saat tangan-tangannya yang panjang itu menarik tali sampai… ahsudahlah, malah fangirling. Selain yang barusan gue sebutin tadi masih ada beberapa yang gue pikirkan tentang dia. Dia orang yang ramah, lucu, menghibur, pengganti remote LCD, ceria, masih kayak anak kecil, pengganti pembantu umum, baik, suka membantu. Si ketua kelas yang merangkap sebagai pembantu umum.


Sebenernya masih ada beberapa orang yang belum gue ceritain di sini, mungkin di post berikutnya. See ya….

Rabu, 05 Agustus 2015

Terjebak pada Teman yang Sama

“Sen, seekor keledai tidak terjatuh pada lubang yang sama. Itu yang bener”
“Biarinlah judulnya gitu. Karena ini bakal berhubungan dengan cerita yang bakal gue sampein”

Satu tahun setelah lulus dari SMP. Satu tahun setelah terlepas dari UN SMP. Satu tahun setelah berpisah dengan kenangan masa lalu. Dan satu tahun terjebak pada teman yang sama. Dua orang yang sekelas waktu SMP sekarang ada di sekolah yang sama bareng gue. Bosen? Gak juga. Masa-masa SMP itu Cuma 3 tahun ngapain bosen. Bosen itu ketemu temen SD. Setelah 3 tahun berpisah tiba-tiba ketemu “Eh, kamu lagi” itu yang biasanya kita ucapin waktu ketemu. Kadang ada yang tanya “Masih inget aku?” ya, itu gue yang ngomong. Baiklah, tapi pada kali ini gue bakal nyeritain tentang dua temen SMP gue itu.

Yang pertama namanya Nia (nama malam) atau Amal (nama siang) :v *sorilho. “Sen, emang dia apaan?” ya dia manusia lah. Jadi gini, dulu waktu di SMP, dia suka diperlakukan secara jantan, diperlakukan layaknya seorang laki-laki padahal dia perempuan. Entah apa alasannya, tapi semua itu perlahan memudar seiring bertambahnya umur :v . Kalo ditanya kenapa namanya bisa Nia, gue juga awalnya gak menerima kenyataan itu. Padahal nama dia gak ada unsur Nia-nya, terus dapet Nia dari mana coba? “dari Nisa terus ‘s’nya dihilangin” kata dia sih gitu. Yaudahlah, ngikut, sekarang bahas yang lain aja. Baru aja dia pindah rumah, katanya sih gara-gara alasan ketidaknyamanan dengan rumah itu. Ada beberapa cerita yang lumayan serem yang terjadi di rumah itu menurut pengakuan dia, tapi gak jelas juga dia pindah gara-gara apa. Sekarang dia jadi penunggu tower di kawasan Sukoharjo :v . Pengalaman gue sama dia… sebenernya baru aja deket, soalnya dulu ada beberapa konflik yang membuat gue jadi semacam semi-hikkikomori, terus baru setelah kelas 8 pertengahan kita jadi deket. Apalagi kelas 9, masa akhir kelas 9 dihabiskan untuk belajar dan belajar, nah, untuk mengisi kebosanan itu gue,dia,sama satu orang lagi yang namanya kayak artis kekinian, mengadakan suatu forum ‘Konseling’ setiap hari Selasa. Tujuannya tidak lain tidak bukan hanya untuk saling bercerita apa yang terjadi hari ini atau sesuatu yang dianggap menarik dan tentang rahasia publik :v . Dan terkadang kita pulang sampe bener-bener sore. Malah jadi penunggu sekolah…  Menurut pengakuan dia, dia udah tau gue sejak sebelum masuk SMP. Jadi dia ketemu gue waktu lomba yang diselenggarain sama SMP itu sendiri.
Dia dulunya kagak mau masuk smansa, tapi gara-gara dia … ahsudahlah, karena alasan ditolak dia akhirnya melamar masuk smansa :v dan alhamdulillah keterima. Di SMANSA ini dia ikutan ekskul OASE dan dia gak berencana masuk MG tapi dia kepikiran untuk ikutan ekskul Bahasa Jepang akhir-akhir ini bareng gue. Meskipun dia jauh di kelas lain, tapi kita tetap terkoneksi karena An-Nur *eakk

Oke, yang kedua namanya Yahya atau Azzam. Tapi dia lebih sering dipanggil Yahya di sini. “Terus Azzam yang manggil siapa,Sen?” Baiklah gue jelaskan, dia bukan murid asli dari kelas 7. Dia murid pindahan dari luar. Luar negeri, bukan swasta, tapi bener-bener dari luar Indonesia. Gak jauh sih, Cuma ke sebuah negara yang jaraknya sekitar satu kilan dari Indonesia ke arah barat di peta :v. Ya, yang manggil Azzam itu temen-temen sana , katanya. Pertama kali ketemu dia itu waktu hari Senin. Jadi ceritanya gue dan temen-temen lain yang waktu itu barusan naik kelas 8 upacara, gue hampir telat dan sekelebat gue melihat bayang-bayang seseorang dengan jeans dan baju putih lagi mbaca koran, biasalah gue kira itu orang tua murid baru, gue langsung aja ke kelas. Baru sampe kelas, gue ndenger rumor kalo bakal ada murid baru cowok dari luar negeri. Gue langsung berfantasi, seseorang dengan kulit babi (langsung merah kalo kena panas), rambut pirang, hidung mancung, mata biru, tinggi semampai, dan lain sebagainya. Tapi langsung gue lupakan, soalnya udah pada dipanggilin suruh upacara. Setelah upacara, gue sama temen-temen lain langsung balik ke kelas dan menanti untuk beberapa saat. Tiba-tiba ada seorang guru masuk “Ya anak-anak kalian kedatangan murid baru” dan sedikit candaan kecil lainnya, akhirnya guru itu mempersilakan orang yang ternyata gue kira orang tua murid baru itu untuk memperkenalkan diri. “$%^&*^%%%^&” begitu ucap dia dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Dan sekelas kompak menjawab “HA?!!” dia mengulang lagi “My name is Yahya Azzam” dan sekelas serentak ber-oh ria. Oh, jadi fantasi gue salah, gitu sih yang gue pikirkan :v gak tau kalo oh-nya temen-temen gimana. Setelah itu hal yang ditakutkan terjadi, dia belum fasih berbahasa Indonesia. Temen sekelas gue iseng tanya “Where do you come from?” kayaknya gitu sih tanyanya, terus dia jawab kalo gak salah dia dari Jogja, emang dia dari Jogja (lahir di sana) terus pindah Solo dan pindah lagi ke luar negeri itu. Setelah itu temen gue yang lumayan fasih bahasa Inggris langsung deketin dia dan ngobrol sama dia. Gue? Gue ke kantin. Waktu istirahat dia juga ke kantin bareng temen-temen barunya. Ternyata dia di sini gak sendiri, adiknya daftar sini jadi murid baru dan orang tuanya juga punya koneksi sama orang dalam. Jadi… lanjut aja deh. Setelah dia masuk ke kelas kita, gue jadi bukan si nomor absen terakhir lagi. Bahagia pada awalnya, tapi waktu kelas 9 nomor gue malah jadi paling akhir lagi -_- . Jujur ya, di SMP gue hampir gak pernah, malah kayaknya gak pernah ngomong sama dia, paling-paling nguping atau sok nimbrung  orang yang lagi ngomong sama dia.

Dan di SMA beberapa berubah, gue tetep sekelas sama dia, itu yang bikin sama. Sepertinya itu kali pertama gue ngomong sama dia, ceritanya sepulang pra-MOS gue nunggu bus di halte depan SMA, terus dia dateng. Beberapa saat hening dan dia yang membuka pembicaraan “Katanya kelas kita semuanya Perancis (maksud dia, semuanya ambil peminatan bahasa Perancis)” dan gue jawab “gak tau” dia ngelanjutin tanya “Rumahmu mana to zul kok naik BST” gue jawab “Di sana” kata gue sambil nunjuk arah rumah gue “Sana mana?” tanya dia “Sana, sana, sana, sana, sana” jelas gue sambil menggerakkan tangan gue mengikuti arah menuju rumah gue “Sana sana i mana?” tanyanya lagi “rapaopo” jawabku. Lalu, BST datang dan pembicaraan berakhir. Dan setelah itu gue dan Yahya melanjutkan hidup seperti orang normal kebanyakan. Berkomunikasi seperti orang normal kebanyakan.

Di SMA ini dia Cuma ikut ekskul SED (Smansa English Debate). Sebenernya dia juga daftar ekskul lain, kayak basket sama Pasprama (ekskul pramuka peminatan :v) tapi sayang dia gak keterima. Saat gue tanya “Kok kamu ikut Pasprama?” dia jawab, “Jane (Sebenernya) aku dulu mau ikut DP (dewan penggalang,) ketoke seru o” . Sampe sekarang dia masih sekelas sama gue dan tahun depan juga bakal sekelas sama gue, jadi mungkin lain kali gue bakal ceritain betapa gregetnya Yahya dan juga kelas gue selama setahun belakangan ini. Ok, see ya.. Fin

Senin, 03 Agustus 2015

Karena Aku Memilih Dia

“Moga-moga gak dapet adek kelas kayak Farah,”
“Adek kelasnya kalo kayak Farah gimana?”
“Gek aku sekelas sama Farah to,”
“Yang penting gak kayak Farah”
“Parah toak!”

Dan berbagai macam kata-kata sejenis lainnya sering menyambangi telinga gue. Antara risih, sebel, dan ada benernya juga mereka ngomong begitu :v *sorilho*. Baiklah, sebelum gue ceritakan kalian lebih lanjut, ada baiknya gue kenalkan orang yang satu ini. Namanya Farah lengkapnya Farah Primanita Prima, karena kebanyakan prim-nya akhirnya banyak yang menyingkatnya menjadi Farah Primata. Kata dia sendiri, dia bukan tipe close minded, apa itu? coba tanya yang ngerti. Selain itu, dimata orang kebanyakan, dia bukanlah tipe waifuable,istriable,dan semacamnya. Dia dipandang seperti sebuah toa atau pengeras suara karena suaranya yang keras dan khas cetar ulala. Hobinya selfie dan mudah bergaul dengan orang lain. Seseorang yang ceria dan seorang ‘Pramuka’ sejati (prasaan mudah terluka) :v . Baiklah segitu aja kenalannya.
Gue lanjutin, topik kali ini adalah tentang salah satu penjalin hubungan tanpa status sama gue :v kenapa bisa HTS ? dibilang temen, bukan , soalnya gue udah ketemu sama kedua ortunya , dibilang lebih dari temen juga bukan , emang gue pelangi apa ? :v apa gue kasih nama simbiosis kompleks aja kali ya ? soalnya kadang kita benar2 seperti simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kedua pihak apalagi masalah hutang menghutang, kalo komensalisme, kita saling menjajakkan sesuatu satu sama lain, parasitisme ketika satu sama lain saling macokke, kompleks to ? *ora !* yo pokokmen tak anggep kompleks ngono wae. Sahabat ? Mending gak usah ketemu dia kalo gitu *ora-ora*, kalo dibilang sahabat… sahabat itu kurang mengena. Kawan… menurutku dia itu sudah seperti keluarga, tapi keluarga jauhhh banget. Keluarga cakasmaji :v ahsudahlah.

Banyak orang sering tanya ke gue, “Zul, kok kamu suka temenan sama si Farah?” dan gue cuma nanggepin senyum, tapi dibalik itu ada makna tersembunyi. Emang salah  ya gue temenan sama dia? Ok, kalo lu nganggap dia orang yang nyebelin, tapi masak lu kagak pernah temenan sama orang semacam dia? Kalo gak, berarti lu yang kayak dia. Begitu cara pikir gue. Kenapa orang suka melihat keburukan dia yang emang lebih banyak *kalolucari-carijugabanyak* ? Jangan ngelihat seseorang cuma dari satu sisi lah. Kan,orang-orang sekarang punya dua sisi, seperti uang kertas *biarbeda* . Dia pasti ada sisi baiknya, ya paling enggak dia ngutang ke elu terus dibalikin uangnya. Dan kalo lu kagak suka sama orang yang suka teriak-teriak, ya diingetin aja lah, gak usah kode-kode, atau malah ikutan teriak bilang “TOAK!! DIEM!!” terus kalo gitu siapa yang harusnya diem? Ngingetin orang juga ada etikanya, gak cuma tanya pos sama kakel waktu kemah doang :v Lu juga harusnya ngingetin sambil nyontohin ke dia cara yang bener. Nah, kalo dia udah bener kan kita yang jadi kangen sama dia yang dulu*oposih*. Satu lagi, kalo lu gak suka dia misuh-misuh…. gue juga, jadi kita sama :v . Fin

Minggu, 02 Agustus 2015

PES 2015, Sen

"Sen, ceritakan padaku apa itu PES 2015.."
"Baiklah, tapi mengapa kau memanggilku 'Sen'?"
"Biar bisa bilang.."
"Bilang apa?"
"Notice me Senpai" :v

Prolog yang jayus.. baiklah langsung aja gue ceritain tentang PES 2015. Sama seperti PES 2014 yang menyita waktu libur gue, tapi tentu ada yang beda. Kalo dulu PES MG 2014 diisi angkatan 13/14, sekarang PES MG 2015 diisi angkatan 14/15 *ratakon jul*
Jadi, H-1 PES kita semua kumpul di Jurug pada awalnya, tapi jadinya ngumpul di sekolah -_- padahal udah sampe sana. Ini nih yang gak tak suka dari angkatanku, tapi itu juga salahku :v . Pada H-1 itu ekskul lain pada latihan dan gladi resik, sedangkan kita? Oh iya, kita juga gladi resik pada beberapa hal, terutama buat persiapan Astna dan Hafiidh yang rapeling dari atap smansa. Terus yang lainnya ngapain? Nyoba naik turun Benjo pake karmantel yang dikaitkan prusik terus sampe di atas, rapeling. Hampir semua orang di angkatan gue udah nyoba rasanya prusiking tapi gue belon. Akhirnya gue beranikan diri naik, gue takut nyoba gara2 dulu habis lari2an gitu disuruh nyoba langsung, secara, gue yang gak kuat yaa... gak kuat. Daripada harus medot ditengah jalan, malah gak bisa, akhirnya gue berhenti sebelum sampe atas banget. Dan ketika gue nyoba beberapa bulan kemudian (ya hari H-1 itu) gue bisa, meskipun sangat histeris. Waktu sampe di atas dan udah dipasang figure 8-nya, gue pun turun secara perrlaahaann dan itu memicu temen gue buat bilang "Cepet wae zul gak papa", dan gue nyahut dia "Gak papa aku mau pelan-pelan menikmati" :v . Sebenernya itu sih tujuan gue nyoba prusiking, biar gak musti lewat pohon dengan batang licin itu, itu malah lebih ngeri.

YA!! HARI H, HARI EKSEKUSI!

 Jam 5 gue berangkat dari sekolah dan di sana, ternyata....cuma...gue....!! CUMA GUE DAN BEBERAPA ORANG DOANG YANG BARU DATENG!! -_____-  Ini nih ngeselinnya angkatan gue. Ketika semuanya udah lengkap (anggap saja anggota bayangan itu ada, namanya juga cuma bayangan :v *sorilho) kita langsung cus ke kelas X MIA 2 yang baru. Di ruangan itu ada 2 ekskul yaitu "PERKOSA MG" *gak usah mesum*
MG dapet urutan ke-8 pada awalnya tapi jadi urutan ke-7 dan itu sekitar jam setengah 10-an dan yang bikin masalah itu, tokoh utama eksekusi kita,algojo kita, Devara, menghilang. Katanya dia pergi ke gereja, udah dicariin juga gak ketemu. Akhirnya pada jam 9-an kita udah pasrah sama keberadaannya dia. Sebelum tampil kita semua pada berdoa, salah satu temen gue ada yang nyeletuk "Semoga Devara cepet balik" dan itu diamini semua anggota. Setelah beberapa saat kami berdoa dan tiba-tiba *tau sendirilah gue bakal nulis apa* udah pada bisa nebak?? baiklah tak jawab.. dan tiba-tiba Devara datang dengan bahagianya. Akhirnya dia dibully.
PES 2015 sedikit terhambat waktu karmantel yang ada di atap waktu diajtuhkan itu agak nyangkut, terus waktu masak-masak beralaskan kertas karton malah kertasnya yang kebakar *iyalah..-_-* Ya gitu aja sih.

Setelah semua ekskul nampilin apa yang bakal dilakukan kalo ngikutin ekskul mereka, kita semua disuruh kumpul di aula buat persiapan sosru. Nah, waktu sosru ini gue cuma dapet 1 giliran, ya itu gak penting sih, syukur Alhamdulillah *kan aku hikkikomori :v oralah* setelah selesai sosru sekitar jam 3-an dan setelah menghitung jumlah calon pendaftar akhirnya kita dapet 99 orang. Itu berarti perjuangan temen-temen dan gue gak sia-sia gitu. Yaudahlah udah capek mikirnya. "Ada yang berminat mungkin? Dicoba dulu gak papa. Yaudah kao gak ada, mungkin nanti kalo ada yang merasa terpanggil ('Panggilan Alam') bisa ikut TMnya tanggal 7 Agustus. Ya pokoknya seru,dek. MARGA GIRI! RIMBA!" Fin.

Rabu, 20 Mei 2015

Konyol di SMA

Sebenernya gue juga kagak ngerti musti ngasih judul apa, baiklah, abaikan judul.

Banyak hal yang sudah terjadi selama 11 bulan gue jadi murid SMA. Mulai dari yang bener2 kagak punya temen, terus tiba2 nongol si fans exo semi-shawol dan kita mulai deket, terus bermunculan tugas2 yang bikin capek hati capek perasaan, munculnya grup nigga yang tiada hari tanpa misuh, bintang kelas yang menyilaukan, anak2 hits hobi selfie, permusuhan antara anak hits di kelas, dan sebagainya. Tapi bagi gue sendiri, dalam 11 bulan ini gue lebih mendekatkan diri pada anime, manga, dan hal2 berbau jepang :v
Gue juga menemukan beberapa karakter orang yang belum pernah gue lihat. Tapi yang bikin gue gregetan adalah keinginan seseorang untuk menjadi terkenal di sekolah. Ada yang menyalurkannya dengan ikut ekskul yang mendukung bakatnya terus dia ikut lomba dan menang baru dia terkenal. Ada juga yang menyalurkannya dengan berbuat onar, berbuat gak jelas, sok kegantengan dan semacamnya. Kedua cara tadi bisa buat lu jadi terkenal baik di kalangan guru apalagi temen2 seangkatan, tapi gue lebih milih cara yang pertama, itu lebih terhormat.

Sabtu, 14 Maret 2015

Jogja Oh Jogja (Perjalanan Panjang yang Penuh Drama)

Yes, gue balik menyapa pembaca :v tanggal 12-03-2015 kemaren bener-bener hari yang "eh". Begini ceritanya.... Ceritanya gue udah janjian sama temen-temen gue, Hacom,Niul,Togel,Alfi,Cipak. Kita semua janjian mau pergi ke Jogja dan naik kereta yang sekitar jam 7-an. Dan lu tau? Yang jadi patokan bukan jadwal kereta melainkan dari tiket yang udah pernah kita beli setahun yang lalu. Gue baru sadar kalo jadwal kereta itu biasanya berubah-ubah. Okay---
Gue sampe di stasiun sekitar jam setengah tujuh, gue cari-cari temen gue dan yah, mereka gak nongol. Tapi bodohnya, gue tetep beli tiket sebanyak orang yang ikut hari itu. Karena jamnya udah mevet banget sama pemberangkatan kereta, alhasil gue langsung masuk kereta dan selalu berpositive thinking kalo mereka udah masuk kereta duluan. Dan seperti yang kau bisa tebak, mereka emang belum pada berangkat jam segitu *nyesel gue beli tiket*. Karena kagak kebagian tempat duduk akhirnya gue berdiri selama satu setengah jam-an, tapi akhirnya gue nyerah. Penyakit gue kambuh lagi -____-
Beberapa jam kemudian gue sampe di Stasiun Tugu Jogja. Di sana rasanya sepi meskipun keadaannya hiruk pikuk gitu. Karena emak gue titip buat beliin tas di Malioboro, akhirnya gue jalan sendiri ke sana, bolak-balik Malioboro nyari tas, pernak-pernik, dan oleh-oleh lainnya. Pagi-pagi tokonya belum banyak yang buka. Berasa lagi di Pasar Klewer tapi ini extended version-nya :D
Setelah gue merasa cukup di Malioboro, gue langsung cus balik ke stasiun dan gue udah beli tiketnya. Gue nunggu sekitar 30 menit-an. Di situ gue juga liat ada Prameks dari arah solo dateng. Tapi gue gak ngerasa ada firasat apa gitu :v Nah, pas gue udah mau naik kereta yang mau balik ke Solo tiba-tiba ada yang manggil nama gue. Ternyata itu Si Alfi yang keluar dari arah kereta Prameks di susul dengan teman-teman yang lain. Suasana jadi mengharu biru :"v Akhirnya setelah menceritakan kronologinya gue gak jadi naik kereta dan ikutan travelling bareng temen-temen gue.
Happy Ending story,huh?

Sabtu, 31 Januari 2015

Sekilas tentang DIklat MG bag akhir

Setelah kami melewati malam yang panjang, akhirnya kami terbangun oleh suara-suara yang sengaja dibuat mengerikan. Serius sumpeh itu suara yang "ngeri". Dan gue terbangun, lebih tepatnya gue bener-bener jadi bangun. Karena gue spoiler, gue jadi tau apa yang bakalan terjadi sama gue. Sebenernya gue udah prepare sama yang satu ini. Tapi sama aja, gue ini gimana ya, anak paling *ngiik* di angkatan ini. *teehee* Yasudahlah kita lewati bagian ini. Suatu saat nanti kau akan mengerti. Setelah acara tersebut, gue, temen-temen, sama angkatan atas saling berbagi identitas :v ya apalah itu namanya. Temu kangen (?), habis itu kita tidur di tenda yang udah di buatin sama panitia.
Paginya kita persiapan untuk hiking *yayy!*. Kita dibagi jadi 4 kelompok. Kelompok gue ada 5 orang, Arluq,Atul,Okhid,Febi,Gue. Oke pertama kita cus ke pos 1. Di sana kita di suruh cuci muka dan seterusnya. Lanjut ke pos 2, pos 2 itu tempatnya agak tinggi dari pos-pos yang lain, kira-kira di suruh apa ya? Ya gitu deh. Nanti aku ndak jadi spoiler permbaca, kan gak seru. Lanjut di pos 3, di pos itu ada beberapa lilin. Gue gak tau kenapa panitia penjaga pos tiga nyalain lilin. Mungkin kedinginan, karena kabut udah mulai beranjak turun *serius, lu bisa lihat kabut bergulir dengan indah :v*, bisa aja karena emang berhubungan sama hal-hal yang mau ditanyain sama panitia itu, dan kemungkinan yang gak bisa diterima akal sehat adalah.... ngepet. Tuh kan situ aja gak percaya apa lagi saya. Lanjut ke pos 4, di situ gue melihat pemandangan sebuah batu besar yang cocok buat materi yang mau ditanyain sama kakak panitia yang jaga di situ. Nah, lanjut ke pos 5, pos paling sangar daripada pos sebelum dan sesudahnya. Begini gue ceritain dikit. Untuk memasuki pos itu, kelompok kita disuruh merayap untuk sampai ke sana. Cyaelah udahan ah spoilernya. Habis dari pos 5 kita ke pos 6, pos CTA *gyahaha* Tapi CTA kali ini gak separah CTA Pradana. Selanjutnya kita ke pos 7, pos bersih-bersih dan makan-makan :D. Dan yang terakhir adalah pos 8, pos korsa. Seru sekali hikingnya. Jadi nambah pengalaman. Setelah nunggu kelompok lain sampai di tenda, kita pada ganti baju. Baru habis semua udah ngumpul, acara diklatnya mau selesai. Setelah itu kita dikumpulin di lapangan yang gue bilang bagus kemaren. Setelah itu kita di suruh buat lingkaran. Habis itu apalah gitu, dsb,dst. Akhirnya setelah kita mbacain surat amanah yang udah di kasih waktu diklat ruang kita di kasih slayer kuning MG. Terharu banget rasanya. Gue berpikir pada saat itu "Kita udah sampe sini, ini belum seberapa, alam itu luas dan kita baru ada di garis start-nya." Di situ gue jadi lebih bisa ngejaga alam, gue bangga sama temen-temen gue yang juga bisa ngikutin diklat yang super greget ini, gue cinta Indonesia. Terutama alam Indonesia yang benar-benar breath-taking, sekalipun di kali deket rumah :v. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. MARGA GIRI!! RIMBA!