Senin, 04 Januari 2016

Seputar Anime (1)

Setelah lama tidak menulis postingan baru di blog ini, akhirnya gue memilih untuk mengulas beberapa anime yang udah pernah gue tonton (pastinya). Yaudah langsung aja...

Love Live! School Idol Project
Anime ini intinya menceritakan tentang perjuangan seorang siswi bernama Honoka Kousaka yang berusaha agar SMA Otonokizaka tempatnya bersekolah tidak jadi ditutup. Namun pada awalnya dia menemui berbagai kendala. Salah satunya dia bingung bagaimana cara dia mempertahankan sekolahnya. Pada akhirnya dia memiliki ide untuk membuat sebuah grup idol. Honoka mengajak kedua teman masa kecilnya, Sonoda Umi dan Minami Kotori, untuk bergabung bersamanya. Seiring berjalannya waktu dan kemunculan berbagai konflik, akhirnya grup idol itu memiliki anggota berjumlah 9 orang (kalo mau tau anggotanya bisa dilihat waktu opening). Grup idol tersebut lambat laun menjadi semakin terkenal di kalangan luar dan hal itu mengakibatkan banyak murid SMP yang tertarik untuk masuk ke SMA Otonokizaka. Apalagi setelah mereka berencana untuk mengikuti sebuah perlombaan antar grup idol sekolah-sekolah di Jepang bernama Love Live, SMA Otonokizaka semakin terkenal dan mereka memiliki banyak penggemar.

Angel Beats!
Anime ini menceritakan tentang peperangan Shinda Tamaruka Sensen (Pasukan Orang-orang Mati) melawan Tenshi (malaikat) di sebuah dunia orang-orang mati (semacam alam baka gitu kali ye). Dunia ini berisi manusia dan NPC (bisa disebut gitu sih). Peperangan ini bertujuan untuk memusnahkan Tenshi tentunya. Kenapa? Karena jika mereka tidak memusnahkan Tenshi, merekalah yang akan dimusnahkan. Maksud dimusnahkan di sini lebih seperti reinkarnasi (menurut gue). Reinkarnasi ini akan terjadi jika orang itu sudah merasa tidak ada penyesalan lagi dalam hidupnya. Pasukan ini dipimpin oleh Yuri atau lebih sering dipanggil Yurippe sama temen-temen di kelompoknya. Pada awalnya semua usaha untuk memusnahkan Tenshi berjalan dengan lancar-lancar saja hingga tibalah seseorang bernama Otonashi Yuzuru. Dia sejak awal memang tidak percaya jika Tenshi itu ada. Jadi dia secara perlahan mendekati Tenshi itu. Tenshi itu bernama Tachibana Kanade yang ternyata dia bukanlah seorang Tenshi melainkan manusia sama seperti yang lain. Setelah semua orang berbaikan dengan Kanade, tiba-tiba ada sebuah kekacauan terjadi dan memaksa kelompok yang awalnya tidak ingin musnah dari dunia itu tiba-tiba saja berubah pikiran. Selain menjelaskan tentang alasan kenapa orang-orang itu ingin “dimusnahkan” di dalam anime ini juga diceritakan masa lalu beberapa orang yang berada dalam guild. Menurut gue anime ini sangat membingungkan (pada awalnya) tapi mengena. Jadi bagi yang gak tega ngelihatnya gak usah dipaksain lihat XD


Mungkin ulasan ini emang gak ada apa-apanya. Maaf buat kalian yang gak suka mbacanya atau gak terlalu ngerti maksudnya karena belum lihat anime di atas. Maaf juga kalo ini lebih seperti preview daripada review. Untuk lebih lengkapnya kalian bisa lihat sendiri animenya, ini cuma sekilas aja. Karena, kalo gue lanjutin ujung-ujungnya bakal jadi spoiler, kan gak seru. Anime yang lain juga bakal di review kalo ada waktu. Terima kasih. Fin.

Jumat, 04 September 2015

Dibalik Tragedi 32

“Ciaelah, Sen, judulnya horor amat”
“Kenapa emangnya? Horor gimana?”
“Tragedi… elegi… alergi…unagi…daiki”
“Daiki? Tapi itu kan… ahsudahlah”

Sebenernya apa sih tragedi 32? Kenapa gue namain tragedi 32? Oke, menurut kamus Bahasa Indonesia, tragedi itu artinya…. Ada seseorang bilang ‘Dunia adalah panggung sandiwara’, jadi tragedi artinya sandiwara sedih ataupun peristiwa yang menyedihkan.. Nah 32 itu sendiri adalah no abs gue dan selalu menjadi yang terakhir. Jadi, gue mau cerita tentang tragedi 32 ini.

Gue kagak tau kapan tragedi ini bermula, tapi mungkin kronologi ini bisa jadi sebab terjadinya tragedi ini. Pertama, sekitar akhir Januari gue izin kagak ikut pelajaran dengan alasan OSN selama seminggu. Terus ada temen sekelas gue yang berinisial Christnov mulai menyapa gue dengan cara yang tidak biasa waktu gue masuk ke kelas. Jujur, temen-temen gue di kelas hampir jarang banget ngajak omong gue, apalagi yang laki-laki dan setelah Christnov mulai menjamurlah para Christnov yang lain. Sebut saja Dweep dan geng Nigga. Pada awalnya gue seneng mereka bisa menganggap gue ada namun setelah itu gue malah merasa ngeri sama mereka. Gue mulai berpikir keruh. Jangan-jangan mereka pedo, jangan-jangan mereka lolicon. Kan, horor. Nah mungkin disitulah awal mula tragedi 32 ini berlangsung sampai sekarang.


Gak cuma Christnov, Dweep, dan geng Nigga. Setelah mereka memulai aksi mereka, kelakuan mereka pun juga bisa memprovokasi orang lain. Seperti Kaichou, Yahyong, Amuba, N yang dulunya gak pernah berani bicara sekarang biasa aja malah. Apalagi si Amuba dan N, tapi yang paling parah itu Amuba. Gue yakin dia laki-laki tapi mungkin dia enggak :v maksud gue, temen-temen gue yang lain meragukan dia. Jujur, dia itu penampilannya menly tapi kelakuannya sedikit girly dan ke-girly-annya dia itu malah membuat gue merasa ‘Oh, dia sejenis sama gue’ kan ambigu. Dan gue merasa dia udah gak punya batas antara dunia perempuan dan laki-laki. Gue miris sama dia. Gue sering ngingetin dia untuk bisa menly dengan ‘cara gue’. Gue orangnya blak-blakan dan to the point. Gue sering panggil dia ‘Cowok’, atau bilang ke dia ‘yang jantan’, ‘laki’, ‘macho’. Dia sering kesindir saat gue bilang gitu dan dia bales “Zul, kamu jangan kayak gitu” dengan nada girly-nya. Gue gak ngerti harus gimana lagi. Apalagi akhir-akhir ini dia sering nyapa gue setiap kali ketemu. Awalnya sama kayak si Christnov, gue bahagia tapi lama-lama itu annoying, disturbing. Meskipun dia nyebahi, nyebelin, tapi dia juga punya sisi lain seperti yang udah pernah gue post sebelumnya (First Impression (muncul belakangan)). 

Gak sebatas temen kelas, tapi dari temen ekskul juga udah mulai, kayak si Avatar, awalnya perasaan gue juga sama, bahagia, tapi lama kelamaan gue juga merasa terintimidasi. Gak sebatas temen ekskul, temen SD gue yang se-SMA juga. Ahsudahlah, gue lelah mikir yang begituan. Semoga tragedi 32 ini segera berakhir. Setiap tragedi biasanya menimbulkan korban dan gue sekarang tengah menjadi korbannya. Yaudahlah, semoga mereka cepet tobat juga :)) . Fin

Satu Tahun Penantian

Jiah, judulnya puitis amat, padahal gak mau bikin puisi. Jadi gini, gue mau cerita tentang satu tahun penantian gue biar bisa jadi seorang kakak kelas, seorang senpai. Mungkin ini juga yang dialami sama temen-temen angkatan gue.

Namanya juga anak baru, pasti dulunya punya senior alias senpai alias kakak kelas. Apalagi kalo masuk ekskul, dijamin deh bakal kerasa ‘kesenioritas’annya. Bagi seorang anak baru kita pasti kesel kan kalo harus selalu nurut peraturan ‘Senior selalu benar. Jika senior salah kembali ke peraturan sebelumnya’. Saking keselnya, gue kadang pengen cepet-cepet naik kelas biar bisa rasain gimana sih rasanya jadi senpai. Ternyata, jadi mereka itu susah.

Hal itu baru gue rasain waktu gue jadi sebuah panitia proker di sekolah dan rasanya bener-bener capek banget. Lebih capek daripada pesertanya malah. Itu baru awalnya. Makin ke sini, makin kerasa susahnya jadi senpai. Yang harus makmurin ekskul lah, yang harus ngurus jadwal latihan lah, yang harus ini lah, yang harus itu lah, ternyata beda dari dugaan gue dulu. Sekarang, menurut gue slogan ‘Senior selalu benar’ itu ada benernya juga. Gak mungkin seorang kakak kelas yang udah tau lebih dulu tentang keadaan yang bakal ‘diujicobakan’ ke adek kelasnya dibuat secara tidak kompeten, sembrono, macem-macem, dsb. Pasti mereka juga udah membertimbangkan sisi baik dan buruknya. Gue malah jadi merasa bersalah sama kakel. Mereka bentak-bentak begitu pasti juga ada alesannya. Mungkin angkatan bawah itu manja, gak serius, atau yang lainnya.


Namun di sisi lain, jadi seorang senpai gak melulu dirundung kesedihan, kadang kala seorang senpai juga bisa bahagia manakala kouhai-nya bersemangat. Itu yang gue rasain Jumat kemaren. Pada acara kumpul rutin, seperti biasa kita semua kumpul di bawah pohon beringin di depan sekolah. Beda dari tahun lalu, dulu yang dateng bener-bener gak sebanding sama ini. Sekitar 25 orang kumpul di situ, belum lagi ada yang telat, jumlahnya bisa lebih dari 25 pastinya. Kesenangan gue berawal di situ. Setelah acara dibuka, seperti biasa kita pemanasan terus lari. Bedanya, kalo dulu di suruh lari ogah-ogahan, sekrang di suruh lari ya masih ogah-ogahan sih, tapi rasanya lain sama dulu. Dulu masih mikirnya “Senpai ngeselin”, sekarang mikirnya “Hore, kita bisa lari bareng”. Sesuatu gitu rasanya :v . 
Makin sore, acara kumpul rutinnya makin seru. Kita juga bisa ngajarin adek kelas gimana caranya ini dan itu. Pokoknya seru. Meskipun acara ini akhirnya harus berakhir tapi gue merasa gak nyesel dengan satu tahun penantian gue. Sebagai seorang senpai yang baik, gue juga tetep punya tanggung jawab begitu juga temen-temen yang lain. Jadi gak cuma ngasal aja. Ya … begitulah. Fin

Sabtu, 22 Agustus 2015

First Impression (muncul belakangan)

Kembali lagi pada post ‘First Impression’. Di post sebelumnya dengan judul yang sama, gue salah ketik nama, yang bener Viana bukan Viani, oke itu kesalahan teknis. Di post ini gue bakal cerita lagi sama kalian tentang betapa konyolnya kesan pertama gue sama orang-orang di sini.
Yang keempat ada Amuba, gue pilih nama itu biar terkesan ambigu :v . Oke, dia cowok. Tinggi, megane, dancer, pinter, mantan calon pendaftar aksel, mantan paski, mantan dewan galang, dan mantan-mantan lainnya. First impression gue ke dia pastinya dia pinter nari, terbukti dari persiapan Cyclone sebelum Pradana yang disuruh untuk flash mob buat pensi-nya. Selain itu, first impression gue ke dia, macho :v . Entah kenapa tiba-tiba kepikiran kalo dia keren, wuih gitu. Dia jadi perwakilan Mas MOS dan dia jadi juara 3 kayaknya, lupa gue. Namun, lambat laun, kesan-kesan itu berubah. Seiring berjalannya waktu, gue mulai menemukan keanehan pada dia. Dia seorang fanboy. Oh God why? Dia bukan sekedar fanboy biasa, tapi menurut koresponden yang gue tanyain, dia adalah seorang fanboy yang berorientasi fangirl. Ya, kau tau,lah… Gak Cuma berhenti di situ keanehannya. Dia cerita kalo waktu SMP dia ikutan paski dan dewan galang. Terus gue tanya, kenapa dia kagak ikutan lagi di SMA. Jawabannya, gara-gara dia gak mau jadi item. Hmmm… itu bukan jawaban yang biasa dilontarkan oleh seorang yang ‘wuih’,kan? Tapi beberapa tahun kemudian gue tanya lagi ke dia dan jawabannya normal, dia gak dibolehin ortu. Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan, kelebihan kemampuan menangkap pelajaran alias pinter. Karena itu dia gak terlalu dibully temen-temen. Tapi tetep aja :v mungkin.

Yang kelima, banyak sih, soalnya mau cerita tentang anak-anak MG. Yaudah, dimulai aja dari ‘ketua cabul’ namanya Acan. Panggilannya Oca, gak nyambung emang. Kesan pertama… tidak berkesan :v kesan pertamaku dia orang yang talkative, lucu tapi ganggu. Ada Astna, kesan pertama, gak terlalu kenal (semua juga sama,sih), gak terlalu memperhatikan orangnya waktu awal kumpul, kalo kesan belakangannya, dia lebih cocok jadi ketua tapi dengan kondisi dia yang aksel dan sifat di yang polos tapi gak jelas itu akhirnya dia gak jadi ketua. Ada Eno. Kesan pertama, namanya keren dan berharap orangnya seperti namanya, tapi ternyata enggak juga. Kesan akhir-akhir ini, sering digampar Devina dengan tangan dewa-nya :v . Ada Arluq, kesan pertama, bijak, mengayomi, kandidat calon ketua, tapi ternyata tidak. Ada Lukas, Hafiidh, Maman, Faris, kesan pertama, pendiem, pasif, gak tau mau ngapain ikut MG. Ada Aha dan Febi. Duo Seri-kaya :v duo gak jelas, duo pahpoh yang mencairkan suasana, terlalu polos. Ada Nisa, Okhid, Laras. Trio koar + Melin kadang-kadang, sukanya koar-koar berita gak penting/penting, talkative. Melin dan Rifdah, anak dan emak, cukup. Devara dan Pau, anak energik, suka tantangan, kadang polos, taat, pinter. Yang terakhir Devina dan Moli, serius apalagi si Moli, suka diganggu Eno, kalo ngomong mengena apalagi Moli, moody apalagi Moli, dan apalagi Moli lainnya, kalo Devina lebih ke sini, kemana? Kayak Moli tapi lebih santai. Berarti Moli gak santai? Kalo disuruh baru bisa santai :v Hampir lupa, ada Hizkia, si pendiem yang gak bisa ketawa, sekalinya ketawa ngetawain kesusahan orang *sadis :v , bisa bandel juga ternyata.

Yang keenam ada Farah alias Palupi alias Nigga Bodoh alias Somplak alias Toak :v . First impression gue ke dia, “Dih, ngapain sih ni orang masuk sini?” :v serius. Tapi lama kelamaan malah gue yang terkena adiksi terhadap Farah. Karena kemampuan diplomasi gue yang kurang, itulah sebabnya gue adiksi sama dia. Karena Farah udah pernah gue bahas pada post sebelumnya (Karena Aku Memilih Dia). Mungkin cukup di sini aja post First Impression, kalo mau nulis post beginian lagi paling-paling bakal gue kasih judul laen :v . Oke deh sekian post ini, gue akhiri dulu dan bye. Fin.

Jumat, 21 Agustus 2015

Semua Berubah Sejak Negeri Menyerang

"Dahulu kala Fobia hidup dalam ketidakpastian. Namun semua berubah, sejak sekolah negeri menyerang. Hanya iman kuatlah yang bisa membantu. Tapi saat kita masuk sana, dia memudar."
"Sen, opening macam apa itu?"
"Biar terlihat (to)lol aja, Kou."

Dari prolog yang (to)lol tadi, kalian udah tau gue mau ngomongin apa? Gak? Oke, gue perjelas. Ini cuma cerita gue yang miris sama temen-temen SMP gue dulu. Mereka masuk sekolah negeri tapi kelakuannya gak berubah. Berubah ke arah yang lebih baik maksudnya. Gue yakin, gue sendiri juga berubah, entah itu ke arah baik atau tidak cuma temen-temen yang bisa menilai diri gue.
Bicara tentang prinsip, entah mereka gak tau atau nekat, prinsip pertama di SMP gue adalah gak boleh pacaran. Gue perjelas GAK BOLEH PACARAN. Namun kenyataannya masih banyak temen gue yang pacaran. Baiklah, masa remaja, masa dimana lo butuh perhatian. Kalo di rumah lo kagak dapet perhatian, biasanya lo bakal cari di tempat lain, bisa jadi itu temen sesama jenis atau malah bukan. Di saat lo dapet perhatian dari mereka, terutama yang beda jenis, lo bakal merasa nyaman sama dia dan gak ingin lepas dari dia. Sebenernya sama sih rasanya kayak lo dapet perhatian dari temen sesama jenis lo *pie?. Lupakan tentang teori muluk ini. Jadi, karena itulah si doi (cowok) ingin selalu berada di sisi deknen (cewek). Nah, untuk 'melegalkannya' banyak remaja yang langsung ambil jalan pintas. Apalagi kalo bukan pacaran. "Hubungan tanpa status, Sen!" Hubungan tanpa status pacaran, tapi kakak-adekan, emang Pramuka?
Ada banyak manfaat dari pacaran tapi kerugiannya lebih banyak.
sumber tertera
Tapi, peraturan di SMP gue bagai angin yang hanya menggerakkan dedaunan saja lalu menghilang. Gak mengena di hati mereka yang gak kena. Buktinya masih banyak yang melanggar dan keterusan sampe SMA. Anehnya, ada yang bangga waktu ditanya,
"Eh, lu udah punya mantan berapa?" 
"Ratusan, bro. Keren, gak?"
"Emang Tang*o, Lu itu keren, ganteng, cakep, wow atau murahan, sih?"
*jleb. 

Kalo udah gitu, kemana harga diri lo? Harga diri lo mau cuma sekedar cocard Pradana, cocard diklat, cocard LM, cocard MOS, cocard SII? Cocard apalagi? Bukan cuma sekedar itu. Cocard mah bukan harga diri, bukan identitas (tapi harga dirinya itu waktu beli kertas cocard dan survei harga dari satu toko ke toko lain dan akhirnya gak jadi beli di kompleks pertokoan itu dan lo jadi bahan gosip pedagang kertas di blok tersebut :v *guebercanda). 
Terus tiba-tiba setelah mereka berdua ngobrol, ada iklan di tv "Punya barang bekas gak kepake, jual aja di blablabla.com"
"Sekarang lu pacaran?"
"Gue belon dapet deknen"
"Bro, ikutan aja bro"
"Apaan?"
"Barang bekas, gak kepake, kan, lu banget."
"@#$%^&*&^%$#!"
Digampar gue. 
Judulnya mendiskriminasi banget,ya? Gak cuma di sekolah negeri sih sebenernya. Di sekolah swasta Islam sekarang banyak. Malah dari cerita temen gue di SMA F, sebuah SMA swasta Islam, ada temen dia yang udah tunangan. Syudah kuduga. Itu apa-apaan coba, belum dapet KTP aja ngakunya tunangan. "Padahal mereka dari pondok dan orang tuanya setuju mereka tunangan" Oh, jadi bukan backstreet ni ye.. :v. Dalem hati gue yang mangkel, "Pak, Buk, plis itu anaknya percuma di sekolahin di pondok. Siapin undangan, urus perizinan, terus dinikahin tuh anaknya sekalian. Restuin tuh Pak,Buk" Kesel sendiri gue. 
Padahal gue juga gak perfect-perfect amat tapi kok malah nasehatin. Ya, ini adalah bagian dari menasehati diri sendiri dan orang lain. Terutama orang yang itu, yang katanya "Aku gak tau bisa ngelupain kamu apa gak," *nada memelas* Gue berharap dia amnesia dan memori jangka pendeknya hilang dan gue berharap gue termasuk dalam daftar memori jangka pendeknya *jahatbanget.
Gue cukupin dulu post yang ngalor-ngidul ini, semoga mengena di hati kalian. Semoga post kali ini laksana angin dengan skala Beaufort 12 yang bisa menerbangkan apa pun yang ada di pikiran kalian (malah jadi amburadul, noh.). Malah gak nyambung. Semoga post kali ini bermanfaat. Fin.

Selasa, 18 Agustus 2015

Kawan pun Guru Jadi Lawan

"Sen, kenapa gak ikutan liat DBL?"
"Males"
"Kan buat ndukung smansa"
"Males, ketemu penampakan"
"Sen bisa liat?"
"Bisa, lihat penampakan yang dulunya temen sekarang jadi rival"

DBL sudah berlalu bagi smansa. Biar kita kalah di basket tapi di lain bidang kita harus bisa unggul*YOSH!. Alesan dan alesan terus mengalir. Sudah 3 kali para 'calo' tiket seliweran keliling, keluar-masuk kelas dan aku masih tak bergeming :v Ya, saya tetap tidak mencomot satu pun tiket DBL. Alasannya praktis. Gak punya uang, gak boleh, males, jauh, sendiri, jomblo lagi. Alasan lainnya baru kusadari hari ini.
Sebagai seorang stalkah tentu tak asing bagiku dengan ritual stalking. Terutama stalking temen-temen, lebih spesifiknya temen SMP. Kadang-kadang saja sih. Dan hari ini kutemukan jawaban yang pas buat alesan kenapa aku gak mau ikutan support langsung. "Gak penak ketemu konco lawas", sebenernya gak pas juga dibilang temen. Bayangkan saja, 3 tahun tanpa komunikasi yang jelas. Lebih mending dipanggil 'kenalan' atau 'tahuan' saja. Kami, lebih tepatnya aku, merasa kita berada di dimensi yang berbeda. Mereka 3 dimensi dan aku buku paket dimensi yang mereka coret-coret. Ditambah lagi, mereka sudah tidak satu institusi lagi dengan saya, Dan itu menandakan bahwa suatu saat nanti pasti kami menjadi rival dikemudian hari. Tapi tak sebatas mereka saja. Semua yang kutemui entah kemarin, hari ini, esok lusa pun akan selalu jadi teman, guru, sekaligus rivalku. Rival dalam kehidupan yang serba tergantung ini *eakk. Fin

Sabtu, 08 Agustus 2015

---sekilas post----

source: facebook
Jia... setelah baca ini jadi pengen... jadi pengen baca manganya :v. Bagi yang penasaran bisa di cari judul manganya Hibi ni Chouchou.
Sekilas info, hari ini ada sebuat saran dari seorang senpi, katanya gue lebih baik jangan pake kata 'gue', 'lu' tapi diganti pake 'aku' 'saya' 'kamu', biar kita jadi lebih akrab pembs :3
Oh iya, hari ini smansa ikut DBL lawan SMAN 1 Karanganyar. Jadi... Selamat berjuang saja. #SMANSADAY .. meskipun saya gak ikut lihat gara-gara pemainnya gak kayak Tim Seirin atau Teiko tapi saya tetap mendukung smansa...