"Sen, kenapa gak ikutan liat DBL?"
"Males"
"Kan buat ndukung smansa"
"Males, ketemu penampakan"
"Sen bisa liat?"
"Bisa, lihat penampakan yang dulunya temen sekarang jadi rival"
DBL sudah berlalu bagi smansa. Biar kita kalah di basket tapi di lain bidang kita harus bisa unggul*YOSH!. Alesan dan alesan terus mengalir. Sudah 3 kali para 'calo' tiket seliweran keliling, keluar-masuk kelas dan aku masih tak bergeming :v Ya, saya tetap tidak mencomot satu pun tiket DBL. Alasannya praktis. Gak punya uang, gak boleh, males, jauh, sendiri, jomblo lagi. Alasan lainnya baru kusadari hari ini.
Sebagai seorang stalkah tentu tak asing bagiku dengan ritual stalking. Terutama stalking temen-temen, lebih spesifiknya temen SMP. Kadang-kadang saja sih. Dan hari ini kutemukan jawaban yang pas buat alesan kenapa aku gak mau ikutan support langsung. "Gak penak ketemu konco lawas", sebenernya gak pas juga dibilang temen. Bayangkan saja, 3 tahun tanpa komunikasi yang jelas. Lebih mending dipanggil 'kenalan' atau 'tahuan' saja. Kami, lebih tepatnya aku, merasa kita berada di dimensi yang berbeda. Mereka 3 dimensi dan aku buku paket dimensi yang mereka coret-coret. Ditambah lagi, mereka sudah tidak satu institusi lagi dengan saya, Dan itu menandakan bahwa suatu saat nanti pasti kami menjadi rival dikemudian hari. Tapi tak sebatas mereka saja. Semua yang kutemui entah kemarin, hari ini, esok lusa pun akan selalu jadi teman, guru, sekaligus rivalku. Rival dalam kehidupan yang serba tergantung ini *eakk. Fin
Selasa, 18 Agustus 2015
Sabtu, 08 Agustus 2015
---sekilas post----
![]() |
| source: facebook |
Sekilas info, hari ini ada sebuat saran dari seorang senpi, katanya gue lebih baik jangan pake kata 'gue', 'lu' tapi diganti pake 'aku' 'saya' 'kamu', biar kita jadi lebih akrab pembs :3
Oh iya, hari ini smansa ikut DBL lawan SMAN 1 Karanganyar. Jadi... Selamat berjuang saja. #SMANSADAY .. meskipun saya gak ikut lihat gara-gara pemainnya gak kayak Tim Seirin atau Teiko tapi saya tetap mendukung smansa...
Kamis, 06 Agustus 2015
First Impression
“Sen..”
“APA?!”
“Gak jadi, lanjutin aja, deh.”
Dalam post kali ini, gue mau bercerita tentang first
impression gue sama temen-temen baru gue di SMA.
Oke langsung aja. Pertama kali gue mau mbicarain
tentang seseorang yang namanya gue samarin jadi Yani. Yani ini adalah temen
sebangku gue pertama kali waktu pra-MOS, dia orang yang ramah, murah senyum,
dan menurut banyak orang dia ca’em. Karena gue lulusan SMP swasta, gue jadi
semacam kena paranoid gitu :v nganggep semua orang yang gak berkerudung itu
non-Islam termasuk si Yani itu. Berhubung pra-MOS diselenggarain waktu puasa
dan bertepatan dengan akhir puasa, kakak fasilitator membagikan surat edaran
tentang zakat fitrah. Tak lupa, kakak fasilitator mengabsen siapa saja yang
muslim. Gue curiga sama si Yani, kenapa dia angkat tangan waktu di absen. Dari muka-mukanya
dia keliatan kayak orang cina eh.. tionghoa. Gue tetep gak percaya kalo temen
sebangku gue ini ternyata saudara gue (saudara seiman maksudnya) sampai kakak
fasilitator bener-bener melayangkan surat edaran itu ke atas mejanya. Well,
dugaan gue salah dan gak semua muslimah bisa mendapat hidayah berhijab itu.
Yang kedua adalah temen
sebangku gue yang lain. Temen sebangku gue waktu MOS. Temen sebangku gue yang
longlast sampe sekarang :v. Namanya gue samarin jadi Viani. Entah kenapa
tiba-tiba gue duduk di samping Viani ini. Seorang anak rantau dari tempat
tandus bernama hutan gunung tepatnya kecamatan retnorock alias Baturetno :v . Gue
punya beberapa cerita konyol yang terjadi antara kita. Jadi, ceritanya, si Viani
ini tanya-tanya tentang boyband korea,Shinee, dan gue tau kalo dia suka sama
korea-korea gitu daripada jejepangan. Gue juga balik tanya ke dia “Eh, namamu
tadi siapa?” gue bingung gara-gara dikelas itu ada nama yang hampir mirip-mirp
gimana gitu, ya nama dia itu salah satunya. Dan gue bertanya pertanyaan yang
sama berulang kali dalam frekuensi yang bisa membuat orang jengkel, tapi dia
enggak :3 mungkin dalam hati :v . Si Viani ini ternyata anak kos. Kos yang
pertama sih menurut gue gak enak. Udah rasanya lumayan jauh, ada anjingnya
lagi, kan gak enak gimana gitu rasanya. Akhirnya dia pindah waktu petengahan
kelas X. Oh, iya, dia juga paling takut sama cerita horor, apalagi waktu
Pradana XXIX di Sekipan, Tawangmangu. Ketika mentari sudah menghilang di ufuk
barat, keahlian gue mulai terkumpul dan siap untuk dimuntahkan, yaitu suka
bercerita sesuatu yang horor. Padahal tempatnya sendiri udah horor. Sasaran muntahan
gue yang pertama kali mestilah si Viani, dia udah nolak beberapa kali, tapi gue
gak pantang menyerah. Apalagi waktu acara pensi yang diadain malem-malem dengan
suasana gelap, dingin, mencekam, gue masih berusaha nawarin dia cerita yang gue
punya, “Eh, aku punya cerita horor” “Gak mau zul” okay, itu jawabannya.
Yang ketiga, si ketua kelas
alias namanya gue samarin jadi Ardy. First impression tentunya dia adalah anak
genter, orang yang tinggi. Baru kali itu gue liat ada anak umur 15 tahun
setinggi dia, ya mungkin sekitar 1,78 m lah tingginya. Impression yang lain itu
dia ternyata pernah mau masuk pondok, udah daftar malah, dan dia jadi
satu-satunya anak SMP Negeri yang daftar pondok itu. Tapi karena ditolak dia
akhirnya masuk smansa. Dan tau sendirilah kalo awalnya mau masuk pondok terus
malah masuk sekolah negeri. Dia terlihat seperti seseorang yang agamis. Later I
found out that … dia seorang yang suka jejepangan, punya beberapa anime, tau
beberapa kosakata jepang (contohnya hentai, ecchi, kimochi, yamete, ikkeh-ikkeh
mungkin juga dia tau :v), dan hal-hal yang berbau jepang lainnya. Selain itu
ternyata dia juga punya keahlian di bidang kepramukaan, apalagi keahlian dia
semakin terlihat waktu mau Pradana. Dia menunjukkan kami, peserta lomba pionering
dari Cyclone (yang dulu MIAJI), bagaimana cara tali-temali yang kuat itu dan … ya
dia bisa tali temali, apalagi di saat tangan-tangannya yang panjang itu menarik
tali sampai… ahsudahlah, malah fangirling. Selain yang barusan gue sebutin tadi
masih ada beberapa yang gue pikirkan tentang dia. Dia orang yang ramah, lucu,
menghibur, pengganti remote LCD, ceria, masih kayak anak kecil, pengganti
pembantu umum, baik, suka membantu. Si ketua kelas yang merangkap sebagai
pembantu umum.
Sebenernya masih ada beberapa
orang yang belum gue ceritain di sini, mungkin di post berikutnya. See ya….
Rabu, 05 Agustus 2015
Terjebak pada Teman yang Sama
“Sen, seekor keledai tidak terjatuh
pada lubang yang sama. Itu yang bener”
“Biarinlah judulnya gitu. Karena
ini bakal berhubungan dengan cerita yang bakal gue sampein”
Satu
tahun setelah lulus dari SMP. Satu tahun setelah terlepas dari UN SMP. Satu tahun
setelah berpisah dengan kenangan masa lalu. Dan satu tahun terjebak pada teman
yang sama. Dua orang yang sekelas waktu
SMP sekarang ada di sekolah yang sama bareng gue. Bosen? Gak juga. Masa-masa
SMP itu Cuma 3 tahun ngapain bosen. Bosen itu ketemu temen SD. Setelah 3 tahun
berpisah tiba-tiba ketemu “Eh, kamu lagi” itu yang biasanya kita ucapin waktu ketemu.
Kadang ada yang tanya “Masih inget aku?” ya, itu gue yang ngomong. Baiklah,
tapi pada kali ini gue bakal nyeritain tentang dua temen SMP gue itu.
Yang pertama namanya Nia (nama
malam) atau Amal (nama siang) :v *sorilho. “Sen, emang dia apaan?” ya dia
manusia lah. Jadi gini, dulu waktu di SMP, dia suka diperlakukan secara jantan,
diperlakukan layaknya seorang laki-laki padahal dia perempuan. Entah apa
alasannya, tapi semua itu perlahan memudar seiring bertambahnya umur :v . Kalo
ditanya kenapa namanya bisa Nia, gue juga awalnya gak menerima kenyataan itu. Padahal
nama dia gak ada unsur Nia-nya, terus dapet Nia dari mana coba? “dari Nisa
terus ‘s’nya dihilangin” kata dia sih gitu. Yaudahlah, ngikut, sekarang bahas
yang lain aja. Baru aja dia pindah rumah, katanya sih gara-gara alasan
ketidaknyamanan dengan rumah itu. Ada beberapa cerita yang lumayan serem yang
terjadi di rumah itu menurut pengakuan dia, tapi gak jelas juga dia pindah
gara-gara apa. Sekarang dia jadi penunggu tower di kawasan Sukoharjo :v .
Pengalaman gue sama dia… sebenernya baru aja deket, soalnya dulu ada beberapa
konflik yang membuat gue jadi semacam semi-hikkikomori, terus baru setelah
kelas 8 pertengahan kita jadi deket. Apalagi kelas 9, masa akhir kelas 9
dihabiskan untuk belajar dan belajar, nah, untuk mengisi kebosanan itu
gue,dia,sama satu orang lagi yang namanya kayak artis kekinian, mengadakan
suatu forum ‘Konseling’ setiap hari Selasa. Tujuannya tidak lain tidak bukan
hanya untuk saling bercerita apa yang terjadi hari ini atau sesuatu yang
dianggap menarik dan tentang rahasia publik :v . Dan terkadang kita pulang
sampe bener-bener sore. Malah jadi penunggu sekolah… Menurut pengakuan dia, dia udah tau gue sejak
sebelum masuk SMP. Jadi dia ketemu gue waktu lomba yang diselenggarain sama SMP
itu sendiri.
Dia dulunya kagak mau masuk
smansa, tapi gara-gara dia … ahsudahlah, karena alasan ditolak dia akhirnya
melamar masuk smansa :v dan alhamdulillah keterima. Di SMANSA ini dia ikutan
ekskul OASE dan dia gak berencana masuk MG tapi dia kepikiran untuk ikutan
ekskul Bahasa Jepang akhir-akhir ini bareng gue. Meskipun dia jauh di kelas
lain, tapi kita tetap terkoneksi karena An-Nur *eakk
Oke, yang kedua namanya Yahya atau Azzam. Tapi dia lebih sering dipanggil Yahya di sini. “Terus Azzam yang manggil siapa,Sen?” Baiklah gue jelaskan, dia bukan murid asli dari kelas 7. Dia murid pindahan dari luar. Luar negeri, bukan swasta, tapi bener-bener dari luar Indonesia. Gak jauh sih, Cuma ke sebuah negara yang jaraknya sekitar satu kilan dari Indonesia ke arah barat di peta :v. Ya, yang manggil Azzam itu temen-temen sana , katanya. Pertama kali ketemu dia itu waktu hari Senin. Jadi ceritanya gue dan temen-temen lain yang waktu itu barusan naik kelas 8 upacara, gue hampir telat dan sekelebat gue melihat bayang-bayang seseorang dengan jeans dan baju putih lagi mbaca koran, biasalah gue kira itu orang tua murid baru, gue langsung aja ke kelas. Baru sampe kelas, gue ndenger rumor kalo bakal ada murid baru cowok dari luar negeri. Gue langsung berfantasi, seseorang dengan kulit babi (langsung merah kalo kena panas), rambut pirang, hidung mancung, mata biru, tinggi semampai, dan lain sebagainya. Tapi langsung gue lupakan, soalnya udah pada dipanggilin suruh upacara. Setelah upacara, gue sama temen-temen lain langsung balik ke kelas dan menanti untuk beberapa saat. Tiba-tiba ada seorang guru masuk “Ya anak-anak kalian kedatangan murid baru” dan sedikit candaan kecil lainnya, akhirnya guru itu mempersilakan orang yang ternyata gue kira orang tua murid baru itu untuk memperkenalkan diri. “$%^&*^%%%^&” begitu ucap dia dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Dan sekelas kompak menjawab “HA?!!” dia mengulang lagi “My name is Yahya Azzam” dan sekelas serentak ber-oh ria. Oh, jadi fantasi gue salah, gitu sih yang gue pikirkan :v gak tau kalo oh-nya temen-temen gimana. Setelah itu hal yang ditakutkan terjadi, dia belum fasih berbahasa Indonesia. Temen sekelas gue iseng tanya “Where do you come from?” kayaknya gitu sih tanyanya, terus dia jawab kalo gak salah dia dari Jogja, emang dia dari Jogja (lahir di sana) terus pindah Solo dan pindah lagi ke luar negeri itu. Setelah itu temen gue yang lumayan fasih bahasa Inggris langsung deketin dia dan ngobrol sama dia. Gue? Gue ke kantin. Waktu istirahat dia juga ke kantin bareng temen-temen barunya. Ternyata dia di sini gak sendiri, adiknya daftar sini jadi murid baru dan orang tuanya juga punya koneksi sama orang dalam. Jadi… lanjut aja deh. Setelah dia masuk ke kelas kita, gue jadi bukan si nomor absen terakhir lagi. Bahagia pada awalnya, tapi waktu kelas 9 nomor gue malah jadi paling akhir lagi -_- . Jujur ya, di SMP gue hampir gak pernah, malah kayaknya gak pernah ngomong sama dia, paling-paling nguping atau sok nimbrung orang yang lagi ngomong sama dia.
Dan di SMA beberapa berubah,
gue tetep sekelas sama dia, itu yang bikin sama. Sepertinya itu kali pertama
gue ngomong sama dia, ceritanya sepulang pra-MOS gue nunggu bus di halte depan
SMA, terus dia dateng. Beberapa saat hening dan dia yang membuka pembicaraan “Katanya
kelas kita semuanya Perancis (maksud dia, semuanya ambil peminatan bahasa
Perancis)” dan gue jawab “gak tau” dia ngelanjutin tanya “Rumahmu mana to zul
kok naik BST” gue jawab “Di sana” kata gue sambil nunjuk arah rumah gue “Sana
mana?” tanya dia “Sana, sana, sana, sana, sana” jelas gue sambil menggerakkan
tangan gue mengikuti arah menuju rumah gue “Sana sana i mana?” tanyanya lagi “rapaopo”
jawabku. Lalu, BST datang dan pembicaraan berakhir. Dan setelah itu gue dan
Yahya melanjutkan hidup seperti orang normal kebanyakan. Berkomunikasi seperti
orang normal kebanyakan.
Di SMA ini dia Cuma ikut
ekskul SED (Smansa English Debate). Sebenernya dia juga daftar ekskul lain,
kayak basket sama Pasprama (ekskul pramuka peminatan :v) tapi sayang dia gak
keterima. Saat gue tanya “Kok kamu ikut Pasprama?” dia jawab, “Jane (Sebenernya)
aku dulu mau ikut DP (dewan penggalang,) ketoke seru o” . Sampe sekarang dia
masih sekelas sama gue dan tahun depan juga bakal sekelas sama gue, jadi
mungkin lain kali gue bakal ceritain betapa gregetnya Yahya dan juga kelas gue
selama setahun belakangan ini. Ok, see ya.. Fin
Senin, 03 Agustus 2015
Karena Aku Memilih Dia
“Moga-moga gak dapet adek kelas kayak Farah,”
“Adek kelasnya kalo kayak Farah gimana?”
“Gek aku sekelas sama Farah to,”
“Yang penting gak kayak Farah”
“Parah toak!”
Dan berbagai macam kata-kata sejenis lainnya sering
menyambangi telinga gue. Antara risih, sebel, dan ada benernya juga mereka
ngomong begitu :v *sorilho*. Baiklah, sebelum gue ceritakan kalian lebih
lanjut, ada baiknya gue kenalkan orang yang satu ini. Namanya Farah lengkapnya
Farah Primanita Prima, karena kebanyakan prim-nya akhirnya banyak yang
menyingkatnya menjadi Farah Primata. Kata dia sendiri, dia bukan tipe close
minded, apa itu? coba tanya yang ngerti. Selain itu, dimata orang kebanyakan,
dia bukanlah tipe waifuable,istriable,dan semacamnya. Dia dipandang seperti
sebuah toa atau pengeras suara karena suaranya yang keras dan khas cetar ulala.
Hobinya selfie dan mudah bergaul dengan orang lain. Seseorang yang ceria dan
seorang ‘Pramuka’ sejati (prasaan mudah terluka) :v .
Baiklah segitu aja kenalannya.
Gue lanjutin,
topik kali ini adalah tentang salah satu penjalin hubungan tanpa status sama
gue :v kenapa bisa HTS ? dibilang temen, bukan , soalnya gue udah
ketemu sama kedua ortunya , dibilang lebih dari temen juga bukan , emang gue
pelangi apa ? :v apa gue kasih nama simbiosis kompleks aja kali
ya ? soalnya kadang kita benar2 seperti simbiosis mutualisme, saling
menguntungkan kedua pihak apalagi masalah hutang menghutang, kalo komensalisme,
kita saling menjajakkan sesuatu satu sama lain, parasitisme ketika satu sama
lain saling macokke, kompleks to ? *ora !* yo pokokmen tak anggep
kompleks ngono wae. Sahabat ? Mending gak usah ketemu dia kalo gitu
*ora-ora*, kalo dibilang sahabat… sahabat itu kurang mengena. Kawan… menurutku
dia itu sudah seperti keluarga, tapi keluarga jauhhh banget. Keluarga
cakasmaji :v ahsudahlah.
Banyak orang
sering tanya ke gue, “Zul, kok kamu suka temenan sama si Farah?” dan gue cuma
nanggepin senyum, tapi dibalik itu ada makna tersembunyi. Emang salah ya gue temenan sama dia? Ok, kalo lu nganggap
dia orang yang nyebelin, tapi masak lu kagak pernah temenan sama orang semacam
dia? Kalo gak, berarti lu yang kayak dia. Begitu cara pikir gue. Kenapa
orang suka melihat keburukan dia yang emang lebih banyak
*kalolucari-carijugabanyak* ? Jangan ngelihat seseorang cuma dari satu sisi
lah. Kan,orang-orang sekarang punya dua sisi, seperti uang kertas *biarbeda* .
Dia pasti ada sisi baiknya, ya paling enggak dia ngutang ke elu terus dibalikin
uangnya. Dan kalo lu kagak suka sama orang yang
suka teriak-teriak, ya diingetin aja lah, gak usah kode-kode, atau malah ikutan
teriak bilang “TOAK!! DIEM!!” terus kalo gitu siapa yang harusnya diem?
Ngingetin orang juga ada etikanya, gak cuma tanya pos sama kakel waktu kemah
doang :v Lu juga harusnya ngingetin sambil nyontohin ke dia cara yang bener.
Nah, kalo dia udah bener kan kita yang jadi kangen sama dia yang dulu*oposih*.
Satu lagi, kalo lu gak suka dia misuh-misuh…. gue juga, jadi kita sama :v . Fin
Minggu, 02 Agustus 2015
PES 2015, Sen
"Sen, ceritakan padaku apa itu PES 2015.."
"Baiklah, tapi mengapa kau memanggilku 'Sen'?"
"Biar bisa bilang.."
"Bilang apa?"
"Notice me Senpai" :v
Prolog yang jayus.. baiklah langsung aja gue ceritain tentang PES 2015. Sama seperti PES 2014 yang menyita waktu libur gue, tapi tentu ada yang beda. Kalo dulu PES MG 2014 diisi angkatan 13/14, sekarang PES MG 2015 diisi angkatan 14/15 *ratakon jul*
Jadi, H-1 PES kita semua kumpul di Jurug pada awalnya, tapi jadinya ngumpul di sekolah -_- padahal udah sampe sana. Ini nih yang gak tak suka dari angkatanku, tapi itu juga salahku :v . Pada H-1 itu ekskul lain pada latihan dan gladi resik, sedangkan kita? Oh iya, kita juga gladi resik pada beberapa hal, terutama buat persiapan Astna dan Hafiidh yang rapeling dari atap smansa. Terus yang lainnya ngapain? Nyoba naik turun Benjo pake karmantel yang dikaitkan prusik terus sampe di atas, rapeling. Hampir semua orang di angkatan gue udah nyoba rasanya prusiking tapi gue belon. Akhirnya gue beranikan diri naik, gue takut nyoba gara2 dulu habis lari2an gitu disuruh nyoba langsung, secara, gue yang gak kuat yaa... gak kuat. Daripada harus medot ditengah jalan, malah gak bisa, akhirnya gue berhenti sebelum sampe atas banget. Dan ketika gue nyoba beberapa bulan kemudian (ya hari H-1 itu) gue bisa, meskipun sangat histeris. Waktu sampe di atas dan udah dipasang figure 8-nya, gue pun turun secara perrlaahaann dan itu memicu temen gue buat bilang "Cepet wae zul gak papa", dan gue nyahut dia "Gak papa aku mau pelan-pelan menikmati" :v . Sebenernya itu sih tujuan gue nyoba prusiking, biar gak musti lewat pohon dengan batang licin itu, itu malah lebih ngeri.
YA!! HARI H, HARI EKSEKUSI!
Jam 5 gue berangkat dari sekolah dan di sana, ternyata....cuma...gue....!! CUMA GUE DAN BEBERAPA ORANG DOANG YANG BARU DATENG!! -_____- Ini nih ngeselinnya angkatan gue. Ketika semuanya udah lengkap (anggap saja anggota bayangan itu ada, namanya juga cuma bayangan :v *sorilho) kita langsung cus ke kelas X MIA 2 yang baru. Di ruangan itu ada 2 ekskul yaitu "PERKOSA MG" *gak usah mesum*
MG dapet urutan ke-8 pada awalnya tapi jadi urutan ke-7 dan itu sekitar jam setengah 10-an dan yang bikin masalah itu, tokoh utama eksekusi kita,algojo kita, Devara, menghilang. Katanya dia pergi ke gereja, udah dicariin juga gak ketemu. Akhirnya pada jam 9-an kita udah pasrah sama keberadaannya dia. Sebelum tampil kita semua pada berdoa, salah satu temen gue ada yang nyeletuk "Semoga Devara cepet balik" dan itu diamini semua anggota. Setelah beberapa saat kami berdoa dan tiba-tiba *tau sendirilah gue bakal nulis apa* udah pada bisa nebak?? baiklah tak jawab.. dan tiba-tiba Devara datang dengan bahagianya. Akhirnya dia dibully.
PES 2015 sedikit terhambat waktu karmantel yang ada di atap waktu diajtuhkan itu agak nyangkut, terus waktu masak-masak beralaskan kertas karton malah kertasnya yang kebakar *iyalah..-_-* Ya gitu aja sih.
Setelah semua ekskul nampilin apa yang bakal dilakukan kalo ngikutin ekskul mereka, kita semua disuruh kumpul di aula buat persiapan sosru. Nah, waktu sosru ini gue cuma dapet 1 giliran, ya itu gak penting sih, syukur Alhamdulillah *kan aku hikkikomori :v oralah* setelah selesai sosru sekitar jam 3-an dan setelah menghitung jumlah calon pendaftar akhirnya kita dapet 99 orang. Itu berarti perjuangan temen-temen dan gue gak sia-sia gitu. Yaudahlah udah capek mikirnya. "Ada yang berminat mungkin? Dicoba dulu gak papa. Yaudah kao gak ada, mungkin nanti kalo ada yang merasa terpanggil ('Panggilan Alam') bisa ikut TMnya tanggal 7 Agustus. Ya pokoknya seru,dek. MARGA GIRI! RIMBA!" Fin.
"Baiklah, tapi mengapa kau memanggilku 'Sen'?"
"Biar bisa bilang.."
"Bilang apa?"
"Notice me Senpai" :v
Prolog yang jayus.. baiklah langsung aja gue ceritain tentang PES 2015. Sama seperti PES 2014 yang menyita waktu libur gue, tapi tentu ada yang beda. Kalo dulu PES MG 2014 diisi angkatan 13/14, sekarang PES MG 2015 diisi angkatan 14/15 *ratakon jul*
Jadi, H-1 PES kita semua kumpul di Jurug pada awalnya, tapi jadinya ngumpul di sekolah -_- padahal udah sampe sana. Ini nih yang gak tak suka dari angkatanku, tapi itu juga salahku :v . Pada H-1 itu ekskul lain pada latihan dan gladi resik, sedangkan kita? Oh iya, kita juga gladi resik pada beberapa hal, terutama buat persiapan Astna dan Hafiidh yang rapeling dari atap smansa. Terus yang lainnya ngapain? Nyoba naik turun Benjo pake karmantel yang dikaitkan prusik terus sampe di atas, rapeling. Hampir semua orang di angkatan gue udah nyoba rasanya prusiking tapi gue belon. Akhirnya gue beranikan diri naik, gue takut nyoba gara2 dulu habis lari2an gitu disuruh nyoba langsung, secara, gue yang gak kuat yaa... gak kuat. Daripada harus medot ditengah jalan, malah gak bisa, akhirnya gue berhenti sebelum sampe atas banget. Dan ketika gue nyoba beberapa bulan kemudian (ya hari H-1 itu) gue bisa, meskipun sangat histeris. Waktu sampe di atas dan udah dipasang figure 8-nya, gue pun turun secara perrlaahaann dan itu memicu temen gue buat bilang "Cepet wae zul gak papa", dan gue nyahut dia "Gak papa aku mau pelan-pelan menikmati" :v . Sebenernya itu sih tujuan gue nyoba prusiking, biar gak musti lewat pohon dengan batang licin itu, itu malah lebih ngeri.
YA!! HARI H, HARI EKSEKUSI!
Jam 5 gue berangkat dari sekolah dan di sana, ternyata....cuma...gue....!! CUMA GUE DAN BEBERAPA ORANG DOANG YANG BARU DATENG!! -_____- Ini nih ngeselinnya angkatan gue. Ketika semuanya udah lengkap (anggap saja anggota bayangan itu ada, namanya juga cuma bayangan :v *sorilho) kita langsung cus ke kelas X MIA 2 yang baru. Di ruangan itu ada 2 ekskul yaitu "PERKOSA MG" *gak usah mesum*
MG dapet urutan ke-8 pada awalnya tapi jadi urutan ke-7 dan itu sekitar jam setengah 10-an dan yang bikin masalah itu, tokoh utama eksekusi kita,algojo kita, Devara, menghilang. Katanya dia pergi ke gereja, udah dicariin juga gak ketemu. Akhirnya pada jam 9-an kita udah pasrah sama keberadaannya dia. Sebelum tampil kita semua pada berdoa, salah satu temen gue ada yang nyeletuk "Semoga Devara cepet balik" dan itu diamini semua anggota. Setelah beberapa saat kami berdoa dan tiba-tiba *tau sendirilah gue bakal nulis apa* udah pada bisa nebak?? baiklah tak jawab.. dan tiba-tiba Devara datang dengan bahagianya. Akhirnya dia dibully.
PES 2015 sedikit terhambat waktu karmantel yang ada di atap waktu diajtuhkan itu agak nyangkut, terus waktu masak-masak beralaskan kertas karton malah kertasnya yang kebakar *iyalah..-_-* Ya gitu aja sih.
Setelah semua ekskul nampilin apa yang bakal dilakukan kalo ngikutin ekskul mereka, kita semua disuruh kumpul di aula buat persiapan sosru. Nah, waktu sosru ini gue cuma dapet 1 giliran, ya itu gak penting sih, syukur Alhamdulillah *kan aku hikkikomori :v oralah* setelah selesai sosru sekitar jam 3-an dan setelah menghitung jumlah calon pendaftar akhirnya kita dapet 99 orang. Itu berarti perjuangan temen-temen dan gue gak sia-sia gitu. Yaudahlah udah capek mikirnya. "Ada yang berminat mungkin? Dicoba dulu gak papa. Yaudah kao gak ada, mungkin nanti kalo ada yang merasa terpanggil ('Panggilan Alam') bisa ikut TMnya tanggal 7 Agustus. Ya pokoknya seru,dek. MARGA GIRI! RIMBA!" Fin.
Rabu, 20 Mei 2015
Konyol di SMA
Sebenernya gue juga kagak ngerti musti ngasih judul apa, baiklah, abaikan judul.
Banyak hal yang sudah terjadi selama 11 bulan gue jadi murid SMA. Mulai dari yang bener2 kagak punya temen, terus tiba2 nongol si fans exo semi-shawol dan kita mulai deket, terus bermunculan tugas2 yang bikin capek hati capek perasaan, munculnya grup nigga yang tiada hari tanpa misuh, bintang kelas yang menyilaukan, anak2 hits hobi selfie, permusuhan antara anak hits di kelas, dan sebagainya. Tapi bagi gue sendiri, dalam 11 bulan ini gue lebih mendekatkan diri pada anime, manga, dan hal2 berbau jepang :v
Gue juga menemukan beberapa karakter orang yang belum pernah gue lihat. Tapi yang bikin gue gregetan adalah keinginan seseorang untuk menjadi terkenal di sekolah. Ada yang menyalurkannya dengan ikut ekskul yang mendukung bakatnya terus dia ikut lomba dan menang baru dia terkenal. Ada juga yang menyalurkannya dengan berbuat onar, berbuat gak jelas, sok kegantengan dan semacamnya. Kedua cara tadi bisa buat lu jadi terkenal baik di kalangan guru apalagi temen2 seangkatan, tapi gue lebih milih cara yang pertama, itu lebih terhormat.
Banyak hal yang sudah terjadi selama 11 bulan gue jadi murid SMA. Mulai dari yang bener2 kagak punya temen, terus tiba2 nongol si fans exo semi-shawol dan kita mulai deket, terus bermunculan tugas2 yang bikin capek hati capek perasaan, munculnya grup nigga yang tiada hari tanpa misuh, bintang kelas yang menyilaukan, anak2 hits hobi selfie, permusuhan antara anak hits di kelas, dan sebagainya. Tapi bagi gue sendiri, dalam 11 bulan ini gue lebih mendekatkan diri pada anime, manga, dan hal2 berbau jepang :v
Gue juga menemukan beberapa karakter orang yang belum pernah gue lihat. Tapi yang bikin gue gregetan adalah keinginan seseorang untuk menjadi terkenal di sekolah. Ada yang menyalurkannya dengan ikut ekskul yang mendukung bakatnya terus dia ikut lomba dan menang baru dia terkenal. Ada juga yang menyalurkannya dengan berbuat onar, berbuat gak jelas, sok kegantengan dan semacamnya. Kedua cara tadi bisa buat lu jadi terkenal baik di kalangan guru apalagi temen2 seangkatan, tapi gue lebih milih cara yang pertama, itu lebih terhormat.
Langganan:
Postingan (Atom)
